Konstruksi Bangunan Tahan Gempa Perlu Diterapkan di Indonesia


Seperti yang kita tahu, Bencana gempa bumi telah melanda wilayah Indonesia di Kabupaten Lebak Provinsi Banten pada Selasa (23/1) berkekuatan 6,1 SR di laut berjarak 43 km barat daya.
Data yang di peroleh, dampak gempa 6,1 SR terdapat 479 rumah rusak yang terdapat di wilayah Banten dan Jawa Barat. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menilai sebagian besar kerusakan rumah dan bangunan akibat minimnya konstruksi menahan gempa.
Berkaca pada kejadian gempa bumi sebelumnya, Sutopo menegaskan konstruksi bangunan tahan gempa adalah kebutuhan yang mutlak di wilayah Indonesia khususnya di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Namun kenyataannya masih sangat minim rumah dan bangunan yang dibangun secara khusus mampu menahan gempa. Akibatnya setiap terjadi gempa dengan kekuatan cukup besar kerusakan bangunan banyak, bahkan menimbulkan korban jiwa.
Sebagai misal, Sutopo mencontohkan, dampak gempa 6,9 SR pada 15/12/2017 lalu menyebabkan 4 orang tewas, 36 orang luka, 8.860 rumah rusak (1.160 rusak berat, 1.950 rusak sedang, 5.750 rusak ringan), 99 sekolah rusak, 67 tempat ibadah dan lainnya.
Kerugian dan kerusakan akibat gempa mencapai Rp 250,76 miliar, dimana Rp 228,62 miliar adalah kerusakan dan kerugian di sektor pemukiman. Untuk memulihkan keadaan ini memerlukan dana Rp 152,5 miliar.


Lempeng Indo Australia dan Eurasia di selatan Jawa ini aktif bergerak rata-rata dengan kecepatan 6.6 cm per tahun. Ratusan tahun tahan gempa besar sehingga energinya terkunci. Artinya ada potensi yang besar. Suatu saat bisa lepas energinya menjadi gempa dan membangkitkan tsunami. Kapan? Kita tidak tahu pasti. Untuk itu perlu meningkatkan kewaspadaan. Persiapan dan mitigasi menghadapi gempa harus ditingkatkan.
Lebih lanjut ia menegaskan pula gempa tidak dapat diprediksi secara pasti. Iptek belum mampu memprediksi secara pasti kapan, dimana dan berapa besar gempa akan terjadi. Oleh karena itu jika menerima informasi akan terjadi gempa bahkan dengan spesifik mengatakan besar, waktu dan lokasi itu adalah Hoax. Jadi jangan ikut-ikutan menyebarkan di media sosial.
Karena dia melihat bangunan yang tidak kuat lalu roboh dan menimpa penghuninya. Gempa adalah keniscayaan. Dalam setahun rata-rata kejadian gempa di Indonesia mencapai 6.000 kali gempa.
Begitu juga gempa di selatan Jawa yang merupakan zona sepi gempa besar. Zona selatan Jawa khususnya dari segmen Pangandaran hingga Pacitan dan Banyuwangi adalah zona seismicgap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *